IMG_8878

Perjalanan 2 hari di kapal PELNI membuat kami menyimpan penasaran yang amat sangat seperti apakah rupa Aru sebenarnya. Konon suatu pulau yang begitu jauh dari dataran luas akan jauh lebih indah daripada pulau yang jaraknya lebih dekat.
Kami sedikit diberi pencerahan oleh, Mike, anak Aru yang menemani, seperti apa Aru di matanya. Dan sampailah kita di Dobo saat pagi menjelang. Rencananya hari pertama belum ada agenda, mungkin akan bertemu dengan beberapa penggerak Save Aru lalu besok baru menyebrang ke Benjina untuk melihat hutan Aru Selatan, daerah Papakula.

Mungkin karena Dobo cukup kecil, antar penduduk saling mengenal dan bertukar senyum. Kami pun mulai nyaman dengan Aru yang penduduknyaramah.

Di Dobo kami tinggal di rumah Mike dan rumahnya dibangun di atas rawa. Pertama kalinya tidur di atas rawa, agak menegangkan membayangkan tiba-tiba bertemu buaya. Untungnya halusinasi itu menurut Mike tidak perlu dikhawatirkan. Sudah tidak ada lagi buaya sekarang. Berita bahagia, artinya kami bisa tidur nyenyak di kasur. Setelah 48 jam perjalanan beralaskan kayu.

Saat sore kami bermain ke rumah adik ibu pendeta yang menyebarkan semangat pergerakan, di sana kami menemui ibu pendeta dan adiknya. Bertubi-tubi rasa haru datang mendengar kisah-kisah perjuangan ibu-ibu ini. Tidak lama kemudian ibu Mercy calon legislatif DPR RI (kini telah terpilih dan dilantik) datang untuk pendukungan dan memberikan semangat serta ikut berjuang di barisan terdepan.

Kami merekam semua yang mereka ceritakan, menahan rasa marah dan emosi dengan perasaan kalut. Setelah mulai gelap Mike mengajak kami menemui Mika, pemimpin pergerakan Aru. Saat di rumah Mika, kami baru tahu kalau Mika adalah seorang PNS yang bekerja di kecamatan. Ia tak gentar walaupun taruhannya adalah dipecat dari jabatannya. Mika pun bercerita tentang kisahnya yang terkena teror pihak-pihak berkepentingan. Mereka menginginkan Mika berhenti demo dan melakukan aksi.

Malam kian larut Mika mengajak kami makan papeda, ikan kuah kuning dan udang merah besar-besar. Hidup yang warna warni sekali. Kami makan lahap bercerita tentang alam sambil menikmati ikan segar serta sagu, hasil alam yang mungkin akan terganggu saat perkebunan tebu jadi dibuat. Saat makan satu persatu teman-teman Mika berdatangan, mungkin ada sekitar 15 orang yang merapat.

Sambil bersantai kami baru sadar kalau ini adalah para motor gerakan Save Aru. Dari ucapan dan pola pikirnya, mereka cukup pintar dan cerdas menyikapi kejadian yang menimpa Aru. Tidak hanya Mika yang bekerja sebagai PNS, ada pula Letkol yang keseharian sebagai mantri kesehatan. Teman Mika lainnya datang dari berbagai profesi, ada TNI, jurnalis, anggota AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nasional) dan pengusaha. Mereka semua mempunyai satu semangat, solidaritas untuk menolak hutan Aru dibabat baik itu untuk dijadikan perkebunan tebu atau perkebunan lainnya.
Melihat semangat yang begitu besar di ruangan itu, serta kemampuan dari mereka untuk menulis dan mengambil gambar. Saya dan Aria berinsiatif untuk memberikan kelas citizen journalism pada mereka. Kelas ini membuat mereka lebih termotivasi dan semangat.

Tengah malam keriaan ini harus berakhir karena besok kami harus menyebrang melihat Papakula dan mengintip sebagian hutan Aru. Sayangnya kendala teknis menyebabkan kami baru sampai siang hari ke Papakula.
Sesampai di Papakula kami bertemu dengan warga untuk meminta izin masuk hutan. Kepala desa dan warga berkumpul sambil bertukar cerita tentang bulatnya tekad mereka untuk menolak perusahaan apapun yang berniat membabat hutan Aru.
Saat itu hujan begitu deras dan kami harus menunggu beberapa lama. Jam 5 sore kami baru masuk hutan ditemani oleh 2 orang warga lokal Papakula.

IMG_0853

Tampaknya kami mesti merahasiakan drama apa yang terjadi di dalam hutan. Ada kejadian tragis menimpa Intan yang sepertinya merasa putus asa melewati hutan selama 8 jam tanpa tahu arah. Ya kami tidak tahu arah karena membuka jalur baru yang penuh duri dan gelap gulita. Tapi untungnya kami masih memiliki dua jam pertama untuk menikmati keindahan hutan Aru yang mempunyai kayu besi tak terhitung jumlahnya, hutan tropis yang digenangi air dan dikelilingi sungai. Satu perjalanan yang paling berkesan bagi kami. Walau mesti melalui rasa kacau, ragu dan mendengar isak tangis Intan, kami tetap bertahan untuk mencari jalan menuju Benjina.

IMG_8915

Sepanjang perjalanan lagi-lagi kami menemukan cerita baru, tentang desa-desa yang sudah menandatangani penolakan dan cerita haru mengenai sumber dana pergerakan. Ternyata ibu-ibu ramah yang berjualan di pasar seringkali menyisihkan uangnya untuk pergerakan ini, mereka menyumbangkan dengan sukarela diiringi doa-doa agar Aru baik-baik saja.
Aru membukakan mata kami tentang arti sebuah solidaritas, kekuatan kolektif masyarakat menentang ketidakadilan yang mereka hadapi. Kesatuan suara itulah yang membuat Aru kuat. Perjalanan 8 jam ini seperti pencerahan yang tidak mungkin kami dapatkan di kurikulum sekolah. Tentang hal-hal yang harus diperjuangkan sebagai identitas dan kearifan lokal.
Tidak hanya itu, berpuluh tahun silam Wallace menuliskan tentang penemuan fauna-fauna endemic di Aru dan bila kebun jadi dibuat hutan dibabat, habislah fauna-fauna tersebut habis pulalah peradaban yang bersandar hidupnya pada alam.
Perjalanan akhirnya menemukan titik yang dituju. Terdengar suara generator dan rumah penduduk. Kebahagiaan tak terperi. Kami disambut oleh bapak pendeta dan disuguhi makan malam yang agaknya seperti pesta. Sajian ikan segar beraneka ragam dengan teman papeda.

Tidak lama setelah itu kami harus segera pulang mengejar kapal ke Banda Neira. Pamit dengan perasaan berat, ngobrol sebentar lalu menyebrang ke Dobo lewat jalan laut.

Kami peluk Mike dan Mika erat. Janji akan bertemu mereka lagi dan menceritakan perjuangan mereka kembali agar menjadi inspirasi banyak teman-teman kita lainnya di belahan sisi Indonesia yang lain. Kekuatan dan keyakinan mereka untuk mempertahankan hak hidup khalayak, keyakinan untuk bertahan berdiri membela alam.

Saat kami bersama mereka. Kami bertekad ada di garda depan untuk membela alam. Bersama-sama masyarakat Aru.Berikut gambar yang kami ambil saat di Aru.

IMG_8901

Untuk mengetahui asal muasal Save Aru silakan klik di sini
Berikut kumpulan foto-foto perjalanan kita di Aru