Saat Desember satu tahun yang lalu, kami memutuskan untuk menikmati malam Natal di Raja Ampat. Terbayang indahnya pantai, kayanya bawah laut dan ribuan bintang berpendar di malam yang kudus. Namun ekspektasi kami ternyata ditarik oleh kenyataan bahwa Natal di Raja Ampat bukan sekedar perihal alam yang mempesona. Lebih dari itu. Mereka memiliki ritual yang luar biasa. Suling Tambur.

IMG_3368 copy

Kami diajak bermain keluar dari pulau tempat kita tinggal, Yenkoranu menuju sebuah desa bernama Yabenkwar. Sekitar pukul 4 sore kami sudah bersiap berlayar menuju desa tersebut. Konon ada beberapa grup Suling Tambur yang akan memeriahkan malam Natal ini. Mereka menggunakan kapal berkumpul di desa Yabenkwar disertai dengan arak-arakan dan tarian penyambutan.

Satu grup Suling Tambur beserta tari-tariannya bisa mencapai sekitar 20an orang. Sulingnya pun berbagai macam nada, ada tenor, bass, alto dan sofran. Sebagian yang tidak meniup suling diberi tugas untuk memainkan tifa (kendang Papua) dan tambur (semacam sner drum).

IMG_3355 copy

Kemeriahan berlangsung selama semalam suntuk. Di bawah bulan bulat, penduduk desa menikmati perayaan mereka sendiri. Kami merasakan kebahagiaan campur baur di sini. Menikmati kebahagiaan yang meruak seperti kanak-kanak yang menggenggam kembang api. Serasa tak ingin kembali ke kota.

Kami ingin menari bersama Suling Tambur lebih dari hari ini saja.

IMG_3488 copy

Kumpulan foto-foto Suling Tambur bisa di lihat di sini