Nama Kalabia sendiri berasal dari nama hiu bambu yang endemic asli Raja Ampat. Semangat untuk kembali pada alam sepertinya menjadi perhatian khusus kapal ini. 2 tahun pertama, kapal ini diinisiasi oleh NGO asing yang bekerjasama dengan orang lokal. Namun kini, kapal Kalabia sepenuhnya dikelola oleh orang-orang asli Raja Ampat.

IMG_3230 copy

Kapal berukuran 32 meter ini berkeliling Raja Ampat dan memberikan ilmu-ilmu khusus tentang ekosistem darat, ekosistem laut dan lingkungan hidup. Kalabia berlayar selama 3 bulan lalu pulang ke Sorong sebanyak 14 hari lalu lanjut berjalan kembali.

Kalabia berjalan mengitari Raja Ampat dari kampung ke kampung. Dia menetap selama 4 hari pada satu kampung. 3 hari pelajaran tentang alam yang diselingi dengan permainan, satu hari lagi menonton layar tancap film dokumenter tentang lingkungan hidup. Konon untuk menuntaskan perjalanan mengelilingi Raja Ampat, membutuhkan waktu sekitar 2 tahun.
Satu hal yang menarik dari kapal Kalabia adalah para pengajar mereka diutamakan adalah asli daerah Raja Ampat. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang pernah membom laut, mantan perusak lingkungan. Anak-anak yang belajar akan langsung mendapatkan ilmu yang bukan sekedar pendidikan, namun lebih dari itu. Mereka belajar tentang arti hidup, mencintai alam sebagaimana mestinya.

Anak-anak yang belajar di kapal Kalabia adalah anak-anak kelas 4 dan kelas 5 SD. Mereka semangat dan senang sekali belajar dengan suasana bermain dan dekorasi kapal Kalabia yang menyenangkan, berwarna-warni dipenuhi gambar-gambar flora dan fauna laut.
Anak-anak ini kelak akan menjadi penjaga utama dari 1.459 spesies ikan karang, 553 spesies karang keras, 42 spesies udang manis dan 16 spesies mamalia laut.

Lokasi Raja Ampat menjadi area utama konservasi kelautan yang dikenal sebagai Jantung Segitiga Karang Dunia. Upaya pembuatan kapal Kalabia menjadi salah satu contoh menarik yang bisa diterapkan di berbagai lokasi konservasi laut di Indonesia. Kalau bukan sekarang kapan lagi? Kita tidak akan bisa tinggal diam menunggu laut kita hancur oleh eksploitasi.

Kumpulan foto-foto Kalabia ada di sini

***

Kalabia is Not A Just About Education

Kalabia name itself comes from the name of a bamboo shark that is endemic indigenous Raja Ampat. Spirit to return to nature seems to be a particular concern of this boat. The first two years, the ship was initiated by foreign NGOs in cooperation with local people. But now, the ship Kalabia fully managed by the indigenous people of Raja Ampat.

Sized boat 32 meters around Raja Ampat and provide special sciences on terrestrial ecosystems, marine ecosystems and environment. Kalabia sailing for three months and then return to Sorong for 14 days and then continued to walk back.

Kalabia walked around Raja Ampat from village to village. He settled for 4 days in one village. 3 days of lessons about nature interspersed with games, one more day step on the screen to watch a documentary film about the environment. It is said that to complete the trip around Raja Ampat, takes about 2 years.
One of the highlights of the ship Kalabia their teachers are concerned about are the original area of Raja Ampat. Some of them are people who’ve bombed the ocean, a former environmental destruction. Children who learn will directly acquire knowledge that is not only educational, but more than that. They learned about the meaning of life, love nature as it should be.

Children who learn on the ship Kalabia are children grade 4 and grade 5 elementary school. Their passion and love to learn to play the ambiance and decor Kalabia ships are fun, colorful pictures filled with marine flora and fauna.

These children will become the guardian of the 1,459 species of reef fish, 553 species of hard coral, 42 species of sweet shrimp and 16 species of marine mammals.

Location Raja Ampat marine conservation core area known as the Coral Triangle Heart of the World. Building Kalabia be one interesting example that can be applied at various locations marine conservation in Indonesia. If not now when? We can not stay silent wait destroyed by exploitation of our oceans.