27 September kami diundang oleh Greenpeace Indonesia untuk berbincang tentang kebakaran hutan yang sedang terjadi di Indonesia, salah satunya di Papua. Terungkap ada satu perusahaan besar yang terlibat kerjasama menerima pasokan minyak sawit dari dua perusahaan yang membuka konsesi di Papua. Mereka berdua berada di Merauke dan Boven Digul. Berikut adalah laporan singkat Greenpeace Internasional;A Deadly Trade-Off; IOI Palm Oil Supply and Its Human and Enviromental Costs. Kami mencomot yang terjadi di kawasan Papua. Silakan disimak;

a-deadly

“Korindo tidak pernah membakar atau bahkan mencoba melakukannya di perkebunan kelapa sawit sendiri untuk keperluan pembukaan lahan atau untuk alasan apa pun.”
(tanggapan Korindo kepada Greenpeace, 23 September 2016)

PELANGGARAN KEBIJAKAN I0I

• Deforestasi: 50.000 hektar hutan primer dan sekunder dibuka di konsesi Korindo di Papua.
• Kebakaran: Penggunaan api untuk pembukaan lahan
Korindo adalah sebuah perusahaan swasta yang menerbitkan hanya sedikit informasi tentang keuangan maupun kepemilikan. Perusahaan ini dikendalikan oleh keluarga Seung Korea Selatan.
IOI Loders Croklaan membeli minyak sawit atau minyak inti sawit dari pabrik Korindo Tunas awa 1A dan 1B di Papua melalui Wilmar dan Musim Mas.

STUDI KASUS: KONSESI DONGIN PRABHAWA, PAPUA

PT. Dongin Prabhawa membuka hutan seluas 6.700 hektar pada periode 2011 hingga Mei 2016. 2900 hektar periode 2011 hingga Mei 2016, 2900 hektar di antaranya adalah hutan prmer.

Titik api kebakaran di konsesi sejak 2013 menunjukan bukti yang jelas 2013 menunjukan bukti yang jelas bahwa Korindo menggunakan api untuk membersihkan tumbuhan pada lahan sebelum tanam. Seara total, 351 titik api tercatat di konsesi PT Dongin Prabhawa selama periode tahun 2013 sampai dengan 2015. Selama periode tahun 2013 sampai dengan tahun 2015 hampir tidak ada kebakaran di kawasan hutan sekitar pengembangan perkebunan dan juga tidak ada kebakaran di daerah yang sudah ditanami kelapa sawit. Hal ini menunjukan bahwa kebakaran terjadi hanya selama tahap pembukaan lahan.

STUDI KASUS: PAPUA AGRO LESTARI, PAPUA

PT. Papua Agro Lestari hampir seluruhnya ditutupi oleh hutan primer pada tahun 2013, menurut peta tutupan lahan KLHK. Pada akhir 2015, sekitar 2.600ha hutan primer telah dibuka, dan 1.200ha lebih lanjut pada awal Juni 2016.

Pembukaan hutan yang disertai dengan pembakaran, dengan total 221 titik api kebakaran tercatat antara Agustus dan November 2015 – sebagian besar diantaranya terkonsentrasi di derah yang baru dibuka di sudut barat laut konsesi.

Pada tahun 2013 dan 2014, sebelum pengembangan lahan, tidak ada titik api tercatat di konsesi ini. Hal ini menunjukan bahwa kebakaran hutan terjadi hanya selama tahap pembukaan lahan, memberikan bukti bahwa perusahaan menggunakan api untuk membersihakn tumbuhan pada lahan sebelum menanam.

IOI menyatakan pada awal September 2016 bahw pemasok pihak ketiga mereka telah ‘memutuskan untuk menghentikan sementara memasok Korindo’ . Keputusan ini (tidak oleh IOI sendiri, tapi pemasoknya) hanya diambil setelah terpapar di publik mengenai kegiatan Korindo, meskipun tuduhan dari sumber yang dapat dipercaya tentang perkebunan mereka di Papua telah berada dalam domain publik untuk waktu yang cukup lama.

Pernyataan IOI

“Pada Agustus 2016, pemasok kami memastikan bahwa mereka telah bekerjasama dengan Korindo dan memutuskan untuk menghentikan sementara pasokan dari Korindo. Sementara itu pihak ketiga kami akan terus terlibat dengan Korindo untuk membantu mereka mengadopsi dan melaksanakan sebuah kebijakan yang sesuai dengan kebijakan kelapa sawit berkelanjutan kami.”

Pernyataan Pedagang

Wilmar dan Musim Mas masing-masing menangguhkan pembelian dari Korindo pada bulan Juni dan Juli 2016.

Pernyataan Perusahaan

Greenpeace menghubungi Korindo sebelum publikasi untuk mendapatkan informasi atas temuan-temuan. Korindo memberi tanggapan yang sama dengan yang disampaikan kepada Aidenvironment dan Mighty terhadap publikasi mereka pada Agustus 2016. Korindo mengklaim sudah melaksanakan; “No Deforestasi, No Gambut dan No Eksploitasi” dan berpegang pada regulasi pemerintah Indonesia termasuk kebijakan tanpa bakar. Perusahaan mengatakan: “Korindo tidak pernah melakukan pembakaran atau bahkan mencoba melakukannya di perkebunan sawit sendiri untuk keperluan pembukaan lahan atau untuk alasan apapun.”

Mari terlibat langsung untuk mencegah kebakaran lebih luas lagi di Papua dengan menandatangani petisi ini

***

“Korindo never burn or even try to do it in their own oil palm plantations for the purpose of clearing land or for whatever reason.”
(Korindo response to Greenpeace, 23 September 2016)

POLICY VIOLATIONS 101

• Deforestation: 50,000 hectares of primary and secondary forests opened in Korindo concession in Papua.
• Fire: The use of fire for land clearing
Korindo is a private company that publishes little information on financial and ownership. The company is controlled by the family of Seung South Korea.

IOI Loders Croklaan buy palm oil or palm kernel oil from the factory Korindo Tunas awa 1A and 1B in Papua through Wilmar and Musim Mas.

CASE STUDY: CONCESSION Dongin PRABHAWA, PAPUA.

PT. Dongin Prabhawa open forest area of 6,700 hectares in the period 2011 to May 2016. The 2900 hectares of the period 2011 to May 2016, 2900 hectares of which are forest prmer.

Fire hotspots in concessions since 2013 showed clear evidence in 2013 showed clear evidence that Korindo using fire to clear vegetation on the land before planting. Seara total, 351 fires recorded in the concession Dongin Prabhawa during the period of 2013 to 2015. During the period 2013 to 2015 almost no forest fires in the area surrounding the development of plantations and also there was no fire in the area that has been planted with oil palm , This shows that the fire occurred only during the opening stages of land.

CASE STUDY: PAPUA AGRO LESTARI, PAPUA

PT. Papua Agro Lestari is almost entirely covered by primary forest in 2013, according to the land cover map KLHK. At the end of 2015, approximately 2.600ha primary forests have been opened, and 1.200ha further in early June 2016.

Forest clearance accompanied by burning, with a total of 221 fire hotspots recorded between August and November 2015 – most of which are concentrated in derah recently opened at the northwest corner of concessions.
In 2013 and 2014, before the development of land, there are no hotspots listed in this concession. This shows that forest fires occur only during the opening stages of land, provide evidence that companies using fire for cleaning you plant on land before planting.

IOI stated in early September 2016 bahw third party suppliers they had ‘decided to temporarily stop supplying Korindo’. This decision (not by IOI itself, but its suppliers) is only taken after exposure in public about the activities Korindo, despite allegations from reliable sources about their plantations in Papua have been in the public domain for a long time.

Statement IOI

“In August 2016, our suppliers to make sure that they have collaborated with Korindo and decided to temporarily suspend the supply of Korindo. Meanwhile a third party we will continue to engage with Korindo to help them adopt and implement a policy in accordance with our policy of sustainable palm oil. ”

Statement Traders

Wilmar and Musim Mas respectively suspended all purchases from Korindo in June and July 2016.

Company Statement

Greenpeace contacted Korindo before publication to get information on the findings. Korindo gave responses similar to that submitted to Aidenvironment and Mighty against their publication in August 2016. Korindo claims to have conducted; “Deforestation No, No and No Peat Exploitation” and adhering to the Indonesian government regulations including without fuel policy. The company said: “Korindo never commit arson or even try to do it in their own oil palm plantations for the purpose of clearing land or for any reason.”

Let involved directly in order to prevent fires wider in Papua by signing this petition.