Mbaru Niang

Mbaru Niang

Wae Rebo adalah sebuah desa yang kian populer keberadaannya di bumi Nusantara, terletak di desa Satar Lenda, Kec. Satarmese Barat, Kab.Manggarai, Flores. Untuk mencapainya perlu berjalan kaki sekitar 2 – 4 jam memasuki hutan, menyeberang sungai serta melintas gunung dan perbukitan. Hawanya dingin karena berada di ketinggian 1100 m di atas permukaan air laut. Kampung Wae Rebo diapit oleh gunung, hutan lebat dan berada jauh dari kampung – kampung tetangga.

Mereka memiliki rumah tradisional bernama Mbaru Niang atau rumah Niang yang memiliki 5 lantai. Setiap lantainya memiliki ruangan dengan fungsi yang berbeda.
- Lutur, yang berarti “tenda”. Tingkatan ini digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat.
- Lobo, yakni “loteng”, yang berfungsi menyimpan bahan makanan dan barang-barang.
- Lentar, digunakan untuk menyimpan benih padi, jagung, kacang dan lain-lain.
- Lempa Rae, sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan yang digunakan ketika gagal panen atau musim kemarau berkepanjangan.
- Hekang Kode, yang digunakan untuk menyimpan langkar, yakni semacam anyaman dari bambu berbentuk persegi guna menyimpan sesaji untuk dipersembahkan pada leluhur.

Rumah Niang nyaris saja punah. Dari tujuh buah awalnya, pada tahun 2009 hanya tersisa empat buah saja. Itu pun dalam keadaan rusak berat. Yori Antar, seorang arsitek senior, saat itu sedang berkunjung ke NTT dan tiba-tiba saja melihat gambar rumah tradisional Wae Rebo dan akhirnya ia langsung pergi ke kampung tersebut.

Saat menemui kondisi Wae Rebo memprihatinkan, Yori Antar melakukan sebuah proyek merancang dan membangun kembali rumah-rumah Niang. Menggenapinya kembali menjadi tujuh buah.

Beberapa saat yang lalu tim dari Net TV membuat video tentang kampung Waerebo dan Mbaru Niang.

Foto saat Mbaru Niang diperbaiki:

http://bit.ly/11OWnMa

Sumber:
Kak Yosep, penduduk Waerebo

Kumpulan foto aktivitas Waerebo bisa disimak di sini

***

Wae Rebo is a traditional village that is increasingly popular presence in Indonesia, located in the village Satar Lenda, district. Satarmese West, Kab.Manggarai, Flores. To achieve this need to walk around 2-4 hours into the forest, crossing rivers and crossing mountains and hills. Was cold because it is located at an altitude of 1100 m above sea level. Wae Rebo village flanked by mountains, forests and are away from their homes – their neighboring village.

They have a traditional home or a house named Mbaru Niang Niang which has 5 floors. Each floor has a room with a different function.

- Lutur, which means “tent”. This level is used as a residence community.
- Lobo, the “attic”, that hold groceries and goods.
- Lentar, used to store seeds of rice, corn, beans and others.
- Lempa Rae, as a storage area used when the food reserves of crop failure or persistent drought.
- Hekang Code, which is used to store langkar, which is a kind of woven bamboo square-shaped in order to save the offerings to be presented to the ancestors.

The house Niang nearly extinct. Of the seven initially, in 2009 the only remaining four pieces only. It was in disrepair. Yori Antar, a senior architect, when it was visited NTT and suddenly see a picture of a traditional house Wae Rebo and finally he went straight to the village.

When met Wae Rebo poor condition, Yori Antar doing a project to design and rebuild houses Niang. Fulfilling it back to seven.
Source:
Kak Yosep, Waerebo villagers

Photo of Waerebo village here