Pesawat kami memajukan jadwal menjadi tengah malam. Itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bagaimana tidak, waktu menyusuri kota Ambon jadi lebih banyak.

Tiba di Maluku saat matahari terbit. Terkantuk-kantuk menuju kota Ambon dan perjalanan kita dari bandara Pattimura sampai rumah Almascatie sekitar 1 jam kurang. Setelah sarapan nasi kuning lezat khas, mata tak tertahan lagi untuk meredup.

Tim menujutimur.com (Intan, Aria, Alain) tertidur hingga pukul 5 sore. Bangun-bangun kami menjadi sehat luar biasa, badan rasanya segar sekali.

Almascatie hendak mengajak kita untuk minum kopi unik ala Ambon, kopi Joas dan ke kafe Sibu-Sibu. Namun kita sekalian diajak berkeliling untuk menikmati Ambon di sore hari. Hari ini kami mencoba angkutan umum angkot di Ambon. Seru sekali, berada di tengah penumpang yang kebanyakan berbahasa daerah. Lalu berhentilah angkot tersebut di sebuah pasar bernama Mardhika. Ini merupakan pasar induk di Ambon, luas sekali, sampai-sampai kami terengah-engah dibuatnya. Pasar ini tidak berbeda dengan pasar tradisional yang ada di Indonesia lainnya. Namun yang menarik bagi kami adalah jajanan unik khas Ambon, macam penganan sagu atau roti-roti kenari yang cantik.

IMG_8265w

Pasarnya pun tergolong lengkap. Dari barang pokok, sayur mayur, furniture, barang loak hingga buah-buahan segar yang dijajakan dengan digelar di pinggiran pasar. Bisa dibayangkan betapa gemasnya kami, melihat durian begitu banyak dan satu buahnya hanya 5000 rupiah. Belum lagi manggis-manggis rupawan pun seakan merayu minta dibeli.
Namun karena jinjingan kami sudah penuh dengan kue-kue ditambah lagi lusa akan pergi ke Sawai, Almascatie bersusah payah menahan nafsu kita terhadap durian dengan menjanjikan makan durian di Sawai yang langsung dari pohonnya. Akhirnya kami pun mengalah.

Pasar Mardhika menyenangkan sekali.

IMG_8264w

Kami pun memutuskan untuk menghabiskan senja hari pertama, di pinggir pasar Mardhika yang menghadap lautan.

pasar senja