tari Caci dari kejauhan

Wae Rebo adalah sebuah desa yang kian populer keberadaannya di tanah nusantara. Terletak di desa Satar Lenda, kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Flores. Untuk mencapainya perlu berjalan kaki sekitar 2 sampai 4 jam memasuki hutan, menyebrangi sungai, serta melintas gunung dan perbukitan. Hawanya dingin karena berada di ketinggian 1100 meter di atas permukaan air laut. Kampung ini diapit oleh dua gunung, hutan lebat dan berada jauh dari kampung tetangga.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Wae Rebo adalah saat tahun baru mereka yang dikenal dengan nama Penti. Ritual Penti dilakukan setahun sekali di bulan November. Mereka menyebut bulan November sebagai bulan Beko, perhitungan awal tahun dimulai dari bulan ini.

Rangkaian ritual Penti berlangsung dari pagi hingga pagi keesokan harinya, sebagai upacara syukur, menghormati leluhur, roh leluhur penjaga pintu air dan juga pertanda awal musim bercocok tanam.

Ritual dimulai dengan berkumpulnya masyarakat di depan Rumah Gendang, rumah utama mereka. Gendang sakral dikeluarkan. Musik mulai dimainkan untuk mengundang roh leluhur penjaga pintu air menghadiri Penti. Masyarakat beriringan membawa persembahan berupa ayam. Sebelumnya diadakan ritual Torok Manuk atau doa dengan mengambil seekor ayam jantan yang disampaikan oleh tetua adat sebelum hewan kurban disembelihkan.

Alunan musik berlanjut dengan arak-arakan ke tiga penjuru. Pertama ke pintu gerbang kampung, kedua ke batas belakang kampung dan yang terakhir ke mata air. Di tiap penjuru ayam dipotong, darah diteteskan ke batu sebagai bentuk persembahan dan permintaan kepada leluhur supaya mata air dijaga sehingga memberi berkah pada hasil bercocok tanam mereka selama setahun ke depan. Isi perut ayam dibuka dan dibacakan oleh pemimpin ritual. Jika bentuk garis urat di perut ayam lurus maka roh leluhur menerima persembahan yang diberikan dan kebun mereka akan aman.

Ritual diadakan satu hari penuh tanpa jeda

Setelah ritual persembahan ke tiga penjuru selesai. Mereka berjalin kembali ke tengah pusat kampung sambil berdendang, nyanyian tanpa musik itu disebut, Sanda.

Penti pun dimeriahkan oleh tarian caci, tarian perang yang bersenjatakan cambuk. Proses permainan caci bergantian. Suara getir cambuk dan tameng yang menangkis membuat penonton bersorak. Walaupun pemain tersebut berdarah terkena cambuk, penari tetang riang tertawa karena makna tari Caci adalah persahabatan. Mengikuti aturan main alam hidup, tidak boleh dendam ataupun marah walaupun dalam kondisi disakiti sudah semestinya ikhlas menerima. Di arena tari Caci pun penari biasa bersenandung, melempar lelucon ke pihak lawan, sesekali mencari perhatian wanita-wanita yang menonton.

tari caci

Tidak semua daerah di Flores mengadakan Penti setahun sekali. Biasanya diselenggarakan 5 tahun sekali karena biaya untuk mengadakannya cukup tinggi, namun di Wae Rebo pengelolaan kas desa sangat baik sehingga bisa membiayai Penti dari tahun ke tahun. Kas desa didapat dari wisatawan yang mengunjungi Wae Rebo.

Pengalaman mengunjungi Wae Rebo di saat penti adalah sebuah perjalanan yang luar biasa. Melihat langsung bagaimana hubungan masyarakat Wae Rebo dengan leluhur mereka, prosesi yang cukup panjang tersebut diselenggarakan tiap tahun, tidak perubahan sejak dahulu kala. Sebuah ritual yang sayang untuk dilewatkan.