Saat berkunjung ke Nusa Tenggara Timur, sempatkan untuk ke kampung Bena, Bajawa. Kampung Bena terletak di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada.
Kampung ini merupakan salah satu tujuan wisata yang sangat menyenangkan. Arsitektur bangunan yang masih asli dan sisa-sisa peninggalan masa megalitikum menjadi daya tarik tersendiri.

rumah di wae bena 1

Rumah-rumah asli Bena ada sekitar 40 rumah dengan posisi seperti lingkaran di puncak bukit. Pemandangan di sekitar kampung Bena sangatlah indah. Kita bisa melihat langsung bentuk gunung Inerie.

pemandangan wae bena

Ditengah-tengah kampung atau lapangan terdapat beberapa bangunan yang mereka menyebutnya bhaga dan ngadhu. Bangunan bhaga bentuknya mirip pondok kecil (tanpa penghuni). Sementara ngadhu berupa bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk hingga bentuknya mirip pondok peneduh.

Tiang ngadhu biasa dari jenis kayu khusus dan keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika pesta adat.

Penduduk kampung Bena masih percaya terhadap kekuatan roh leluhur. Mereka masih melakukan ritual-ritual yang diadakan pada beberapa momen, penduduk percaya dengan mengadakan kontak terhadap para arwah leluhur yang telah memberikan rasa nyaman, ketentraman dan melindungi sehingga para keturunannya dapat menjalankan hidup dengan damai. Kepercayaan penduduk kampung Bena sudah ada sejak 1200 tahun yang lalu secara turun temurun.

Selain percaya terhadap roh leluhur, penduduk kampung Bena juga percaya pada kekuatan gaib yang ada di sekitar, semisal alam, pohon, sungai dan lainnya. Saat berkunjung ke Kampung Bena untuk pertama kalinya kami menyaksikan ritual pemotongan babi untuk persembahan karena ada pembangunan sebuah rumah. Konon katanya babi tersebut harus dipotong dengan cara membelah kepalanya terlebih dahulu, otaknya dikeluarkan ke sebuah wadah lalu darah babi digunakan untuk mendukung pembangunan rumah tersebut.

ritual pembangunan rumah di Wae Bena

Pembangunan rumah dilakukan dengan cara gotong royong. Hampir seluruh penduduk ikut berperan serta; memintal tali temali, merapikan ijuk untuk atap atau memasang pasak. Suasana gotong royong yang mungkin tidak akan kita dapatkan lagi di lingkungan perkotaan menjadi pemandangan khas kampung Bena.

mempersiapkan tali temali

memintal sabut untuk atap

Pulang dari sini kami membawa pulang banyak nilai yang tidak bisa diceritakan hanya dengan huruf-huruf saja. Beragam rasa. Bahagia dan bangga, di sebuah daerah di Indonesia, ada sebuah kearifan lokal yang masih terjaga dengan baik dan dilestarikan tanpa terganggu perkembangan zaman.

Rekam jejak saat kami di Wae Bena bisa dilihat di sini.

***

When We Visited Wae Bena

When you have chance to visit Nusa Tenggara Timur, please take your time to visit Kampung Bena, Bajawa. Kampung Bena is located in Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada. In english kampung is also known as village. This village has become one of enjoyable tourist destination. The architecture of buildings in Kampung Bena are still traditional and the remnants of past meghalitic era, thus become the main attraction to come to this place.

There are arround 40 traditional Bena’s houses in this place. The building is just like circles on the top of the hill. The scenery around Kampung Bena is also wonderful. We are able to see Inerie Moutain from Wae Bena.

In the middle of the village (it’s lika a yard) there are several buildings named bhaga and ngadhy. Bhaga looks like a mini cottage (without occupant) while ngadhu is a building with one pillar and the roof is made from coconut fibers and looks like a shade cottage.

Ngadhu pillar made from a special type of wood, the strogest one, because it’s also use to hang sacrifice animal when the traditional party is held.

People in Kampung Bena still believe on the power of their anchestor spirits. They still do some rituals which is held in several moments. They believe that by doing a contact with their anchestor spirits (who give them comfort feelings, peace and who has protected them) they will live in a peace with their future generation. This kind of belief has exist since 1200 years ago and it comes from generation to generation.

Beside believing in anchestor spirits, people in Bena also believe in supranatural powers arround them e.g the power of the nature, trees, rivers, etc. We’re glad because when we visited Kampung Bena they were having a ‘slaughtered pig’ rituals. The pig used as an offering because they were about going to start build a house. It was said that the pig should be splitted on its head frist, then the brain is removed from the head and last the blood is used to build the house.

The house was built together. Almost all resident in Wae Bena took part on it, spinning ropes, tidying the fibers to the roof or put pegs. This kind of togetherness is something rare to find in the city and become uniqueness in Kampung Bena.

After visiting Wae Bena we got alot of values. Values that can’t be tell by the words only. Such an unidentified feelings. Happy and proud at the same time. In a place in Indonesia, there are local wisdoms that still adhered by its local resident and it is not disturbed by the time .

You may also like to see our records when we visited Wae Bena here.