kepala kerbau susun

Unsur yang penting dalam kepercayaan asli komunitas adat Kampung Bena adalah kepercayaan kepada roh-roh leluhur nenek moyang dan roh-roh orang yang telah meninggal. Pada umumnya mereka percaya kepada makhluk-makhluk halus seperti penjaga pintu rumah, desa, hutan, sungai, mata air dan lain sebagainya. Sehingga masyarakat setempat di setiap melakukan sesuatu hal terlebih dahulu melaksanakan Upacara Puju Kui yaitu upacara memanggil dua kekuatan besar yaitu Dewa dan Nitu.

Dewa yang biasa disebut Dewa Enga (atas) merupakan Dewa atau Tuhan Yang Maha Esa, penguasa alam semesta beserta segala isinya. Dewa inilah yang dipercaya selalu memberikan berkah dan keselamatan. Tuhan terlalu suci dan mulia, derajatnya terlalu tinggi melebihi segalanya sehingga Manusia dalam memohon sesuatu kepada-Nya memakai makhluk halus sebagai Perantaranya. Terutama roh-roh leluhur yang sudah sederajat dengan Dewa.

Sedangkan Nitu Ngiu (bawah) merupakan suatu alam yang ada disekitar yang tidak terlihat, namun memiliki kekuatan yang sangat besar. Kekuatan tersebut berupa makhluk-makhluk halus roh para leluhur yang dihubungi dengan melakukan upacara. Semua makhluk-makhluk halus dan roh-roh leluhur ada yang bersifat baik dan jahat.

Makhluk halus yang bersifat baik disebut Inebu (roh nenek moyang) yang selalu memberikan petunjuk yang benar, arahan demi keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya. Sedangkan makhluk halus yang bersifat jahat disebut Setan. Kekuatan ini bisa menyebabkan suatu penyakit dan kematian jika tidak diperhatikan secara seksama pada saat upacara yang telah ditetapkan oleh adat. Setan sifatnya suka membuat kekacauan dan memberikan jalan yang salah.

Kepercayaan Masyarakat Kampung Bena Terkait Dengan Upacara Daur Hidup

Upacara kelahiran untuk anak yang pertama (anak sulung ):

Upacara ini dikenal dengan istilah Lawiasi dilakukan saat bayi tersebut baru lahir. Upacara ini merupakan syukuran dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga anak yang baru lahir ini diberi keselamatan dan berkah. Sebagai ungkapan rasa syukur biasanya dilakukan dengan melakukan pemotongan babi. Pemotongan Babi juga ada proses rituallnya, sebelum babi disembelih. Pada saat potong babi khusus untuk hatinya diambil untuk dipersembahkan kepada leluhur sedangkan dagingnya dimakan bersama.

Sedangkan hati babi yang diambil untuk persembahan Roh leluhur diperlakukan secara khusus dengan suatu prosesi ritual sebagai wujud kepedulian dan rasa hormat, ingat akan keturunan atau asal leluhurnya. Masyarakat kampung Bena yakin dan kepercayaan dengan mempersembahkan hati babi kelak anak akan terlindungi, kebal dari penyakit dan terhindar dari serangan makhluk gaib yang jahat. Upacara tersebut kemudian diakhiri dengan siraman air kelapa muda ke kepala anak yang dilakukan oleh tetua adat.

Upacara Potong Rambut:

Upacara ini sering disebut dengan istilah Koi Fu. Upacara ini dilakukan biasanya pada saat anak gadis menjadi seorang remaja. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa anaknya sudah remaja. Upacara ini melibatkan seluruh pihak keluarga baik dari pihak wanita maupun pihak laki-laki. Biasanya sarana yang digunakan adalah pisau cukur dan tempurung yang berisi air, untuk membersihkan kepala yang telah dicukur. Dalam upacara ini tentunya pihak keluarga wanita mewajibkan keluarga pihak laki-laki untuk menyumbangkan satu ekor kuda. Masyarakat kampung Bena memiliki kepercayaan dengan melaksanakan upacara ini tentunya gadis yang telah remaja ini menjadi anak yang cerdas dan patuh dengan orang tua.

Upacara Potong Gigi:

Upacara dikenal dengan istilah Ripa Ngi’i. Upacara dilaksanakan pada saat anaknya menjelang dewasa dan siap menerima pinangan atau lamaran. Sarana yang digunakan pada upacara ini adalah alat berupa kikir yang dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman. Pada saat berlangsung, masyarakat kampung Bena memiliki kepercayaan apabila gigi anak (wanita) yang sedang dikikir tersebut mengeluarkan darah maka sudah tentu anak tersebut sudah tidak perawan lagi. Begitu pula sebaliknya. Setelah satu minggu remaja yang telah usai upacara potong gigi, giginya akan dikuatkan dengan kuku dan laka, kuku merupakan sejenis tanaman yang tumbuh di hutan dan laka adalah sejenis belerang. Kedua bahan tadi dikunyah sehingga gigi menjadi kuat dan berubah warna menjadi menjadi hitam selamanya. Tentunya di Kampung Bena kepercayaan melaksanakan tradisi ini masih tetap terjaga.

Upacara Kematian:

Upacara kematian dalam masyarakat kampung Bena dikenal dengan istilah Ngeku. Bagi masyarakat yang kurang mampu cukup melakukan upacara dengan hanya menyembelih seekor ayam saja. Namun bagi masyarakat yang ekonominya lebih mampu dalam upacara ini biasanya membunuh kerbau atau babi. Hewan kurban yang disembelih diambil bagian hatinya. Pada saat penguburan mayat ditaburkan beras dan moke kemudian diberikan sedikit kepada mayat tersebut kemudian diberi doa “Engkau Mau Jalan, Makanlah Hati Babi Ini, Berkatilah Sanak Keluarga Yang Engkau Tinggalkan“. Masyarakat kampung Bena juga tidak pernah melupakan kebiasaanya, di berbagai upacara selalu menghaturkan sesaji untuk dipersembahkan kepada roh leluhur yang disebut Inebu agar selalu dibantu segala kelancaran upacara.

Ritual Adat dalam Pesta Reba Bena:

Kata “Reba” arti pesta, Reba atau Uwi. Kepercayaan ini bertujuan untuk menciptakan hubungan baik antara manusia dengan Tuhan maupun dengan leluhur. Hingga tercermin pula hubungan baik antara manusia dengan manusia. Upacara Reba Bena dilaksanakan setiap tahun, dan dirayakan selama tiga hari tiga malam. Upacara Reba Bena dilaksanakan guna memohon keselamatan dan keharmonisan.

Kepercayaan terhadap symbol-simbol sakral Rumah Adat Bena:

Kepercayaan saat mulai membuat ragam hias rumah adat berupa ukiran disebut dengan Lima Pada. Kepercayaan ini ditandai dengan mengadakan ritual kepada roh leluhur dengan menggunakan anak babi yang telinganya dilubangi sebagai sarana upacara. Setelah diadakan upacara, anak babi tersebut boleh diambil oleh tukang yang akan mengerjakan pekerjaan mengukir tersebut.

Pantangan yang tidak boleh dilanggar yaitu khususnya wanita pemilik rumah selama pekerjaan membuat ukiran belum selesai, dilarang meminyaki rambutnya, rambut hanya boleh dibasuh dengan air. Apabila hal tersebut dilanggar, akan terjadi mara bahaya dan sakit yang akan menimpa penghuni dari rumah tersebut. Ragam hias yang dapat dilihat dari beberapa rumah adat Bena berupa Ukiran kuda, ayam Kelantan, tanduk kerbau dan anting.

Ornamen di depan maupun di sekeliling rumah terdapat berbagai jenis dekorasi dengan berbagai bentuk seperti: tanduk kerbau di kanan atau kiri tiang penyangga rumah, tanduk tersebut adalah bekas kerbau yang dipotong dan tanduknya tidak diperbolehkan untuk membuangnya. Ukiran kuda terdapat dibelakang pintu rumah. Kuda menurut masyarakat Bena memiliki simbol kekuatan. Motif kuda dipercaya dapat mengalahkan kekuatan jahat yang ingin mengganggu penghuni rumah. Tanduk kerbau yang diletakkan di beranda rumah merupakan simbol kekayaan dan kemakmuran. Ini juga merupakan suatu tanda bahwa tanduk yang tersusun rapi di depan rumah berarti bahwa di rumah tersebut telah pernah dilakukan suatu upacara adat yang relatif besar. Bagi masyarakat yang berekonomi (kaya) yang mampulah melaksanakan upacara tersebut dengan menggunakan kerbau. Hewan kerbau adalah salah satu binatang termahal bagi kalangan masyarakat Bena, dan tanduk itulah sebagai simbol pristise bagi masyarakat Bena.

Ritual Rumah Adat Bena

Pelaksanaan ritual rumah adat Bena dilakukan setelah rumah baru selesai dibangun. Rumah yang baru selesai dibangun harus diupacarai terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan pesta atau bentuk syukuran. Pelaksanaan pesta diawali dengan upacara yang disebut dengan upacara Kasao. Upacara ini diadakan dengan pesta yang cukup meriah. Sarana yang digunakan Tibo yaitu pucuk bambu. Disertakan dengan upacara potong ayam dan potong babi di depan pintu rumah hal ini dipersembahkan kepada roh leluhur, memohon doa restu agar dilancarkan segala pelaksanaan upacara tersebut. Persembahan diletakkan di Ture Sabarajo kemudian sisa dari persembahan tersebut dibagikan kepada seluruh masyarakat. Upacara persembahan berupa bentuk sesajian kepada roh leluhur dengan menggunakan pucuk bambu disebut Upacara Pa’I Tibo. Pada perayaan ini dipersembahkan pula tari-tarian dari masyarakat yaitu Tari Ja’i.

Simbol-simbol Sakral Dalam Wujud Bangunan di Kampung Bena:

1. Ngadhu adalah sebuah bangunan pemujaan terhadap roh leluhur yang berbentuk seperti paying. Dalam banguan Ngadhu terdapat ornamen berupa ukiran dengan berbagai motif tertera dipermukaan tiang. Elemen dasar dari tiang Ngadhu adalah kayu. Ngadhu merupakan simbol dari leluhur laki-laki, yang tepat berada di depan Bagha. Sedangkan Bagha disimbolkan sebagai leluhur perempuan. Makna bangunan tersebut sesuai dengan pola tata ruang atau diletakkan yang diposisikan seperti itu memiliki arti yakni disimbolkan sebagai sepasang suami istri. Seorang suami harus berada di depan istrinya, berusaha bertanggung jawab dan melindungi istrinya. Ngadhu dan Bagha di kampung Bena juga berfungsi sebagai lambang keberadaan suatu suku (So’e). Bangunan ini didirikan ketika suatu klan akan dibentuk.

2. Bagha adalah bangunan atau miniatur yang berupa rumah kecil simbol pemujaan bagi leluhur perempuan. Bangunan Bagha terletak juga di depan bangunan Sao Sakapu’u. Hal ini sangat dimengerti karena sistem kekerabatan Bena menganut sistem matrilineal atau garis keturunan pihak perempuan memegang pangkal dasar keluarga. Bagi masyarakat kampung Bena, bangunan bagha ini juga dipercaya sebagai simbol para leluhur pokok dari satu so’e yang berdasarkan satu keturunan darah. Ada suatu filosofi tentang Bagha yaitu kesucian yang menjadi asas atau dasar hidup perkawinan orang Bena adalah ajaran tentang menjaga kesucian leluhur pokok perempuan yakni Bagha.

3. Saka Pu’u. Rumah tradisional di Bena yang menganut sistem matrilineal artinya rumah ini merupakan rumah utama yang dimiliki oleh keturunan perempuan. Saka Pu’u ini ditandai dengan terdapatnya miniatur rumah di atas atap, rumah ini juga disebut Anaiye.

4. Sakalobo adalah Rumah adat Bena yang dimiliki oleh laki-laki dari keturunan perempuan Bena. Bangunan memiliki ciri khas dengan adanya simbol patung kecil pada puncak atap bangunan yang disebut Ata.

5. Sao Kaka adalah bangunan rumah yang digolongkan sebagai rumah pendukung dari Saka Pu’u dan Sakalobo. Sao Kaka didirikan apabila keluarga tidak memiliki sua. Penghuni dari Sao Kaka merupakan keluarga sampingan dari Saka Pu’u dan Sakalobo.

Kepercayaan Terhadap Tinggalan Megalitik Di Kampung Bena

megalitikum bena 1

Bukti peninggalan leluhur dapat ditemukan berupa menhir dan tahta bebatuan yang sangat unik. Peninggalan megalitik tersebut antara lain :

1. Ture Sabarajo
Turesa Barajo merupakan salah satu makam leluhur pendiri kampung Bena yang ditampilkan melalui susunan bebatuan yang membentuk lingkaran batu-batu runcing dan ditutup dengan batu ceper diatasnya sebagai tempat persembahan.

2. Peo
Peo merupakan salah satu menhir yang terdapat di Kampung Bena. Batu runcing kecil satu buah yang terdapat di depan Ngadhu dan Bagha. Menurut masyarakat setempat, Peo ini diibaratkan sebagai anak dari pertemuan Ngadhu dan Bagha. Biasanya hewan kurban yang akan digunakan sebagai kurban upacara diikat di Peo tersebut. Seperti misalnya Upacara pesta rumah adat (Kasao), Kerbau yang akan disembelih tersebut diikat terlebih dahulu di Peo.

3. Ture dan Menhir
Susunan batu menyerupai bentuk kubur dilengkapi dengan dolmen dan menhir. Dolmen sebagai batu perempuan dan menhir sebagai batu laki-laki.

4. Meri
Meri adalah batu diluar kampung yang berfungsi sebagai tempat diletakankanya ubi pada upacara adat Reba.

megalitikum bena 3

Sumber:

Blog Ngurah Jayanti (http://varianwisatabudayasundakecil.blogspot.com/)
Staff peneliti di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali, NTB, NTT.

***

Sistem Kepercayaan Wae Bena
What People in Wae Bena Believed (Its Religion and the Myth)

The important thing in Kampung Bena Community’s beliefs is that they believe in ancestral spirits and the spirits of death person. In general, they also believe in the delicate creature such as spirit who protect the house, spirit who protect the village, spirit who protect the forest, spirit who protect the river, spirit who protect the fountain, etc. because of that, the local resident always do a ritual named Upacara Puju Kui before they start their activities. Upacara Puju Kui is a ritual to call two super power named Dewa and Nitu.

Dewa that usually mention on the ritual is called as Dewa Enga (above), the almighty God, ruler of the universe and everything in it. Dewa Enga is believed as the one who always give blessing and salvation. God is believed as the holiest and gloriest in the world, God throne is highest among anything in the world, that is why when human ask something to Him they should use spirit as an intermediary especially the spirit of anchestor who are as holy as Dewa.

While Nitu Ngiu (botoom) is a world arround us that we can’t se but it has a super power. Thus super power is including the spirits of the anchestor itself who are contacted through a ritual. There are two types of delicate creature and anchestor spirits, the kind one and the wicked one.

The kind delicate creature is also known as Inebu (or anchestor spirit). Inebu always give a right guidance, directives for safety, health and welfare. While the wicked delicate creature is also known as daemon or devil. Daemon may cause an ill or even death if people don’t take care of it well when the ritual is held. The nature of a devil is love to create a mess and give wrong guidance.

What the society’s believe in Kampung Bena related to Daur Hidup (Life Cycle) rituals
Birth ceremony for the first son/daughter who born in a family:

This kind of ritual is well known as Lawiasi and held when the baby was just born. This is a ritual that is held to thank to God and ask for His blessing and mercy for the baby. As a gratitude, usually people will slaughter a pig. This slaughtering process has some ritual before it’s started. Beside that after the slaughtering process is finished, the liver will be devoted for their anchestor and the prok will be eaten together.
This ritual is not stop untill that point because the pig liver will has some more ritual before it’s being devoted.

This special ritual is a representation of awareness and respect to their anchestor. People in kampung Bena believe that when they devote the pig liver, their baby will be protected from illness and an offensive of devil. This ritual then ended with splash of coconut water to the head of baby done by elder.

Upacara potong rambut or Hair Cutting ceremony:

Cutting hair ceremony is also known as Koi Fu. This ritual usually done when a little girl has turn into teenager. The objective of doing such thing is to show the society that their girl has turn into teenager. This ceremony involves the entire family parties both from the women and men. During the ceremony they use razor and coconut shell filled with water. Thus water will be used to clean the girl’s head after it is being shaved. In this ritual, the woman family will oblige the man family to give them a horse. People in kampung Bena believe that by doing such kind of traditional ceremony, this young girl will grow as a smart girl who obey their parents as well.

Upacara Potong Gigi or Teeth Cropping ceremony:

Also known as Ripa Ngi’i ceremony. This ceremony is held when the young girl has grown older and ready to receive a propose. A special tool is used in this ritual and done by the specialist. Another uniqueness is people believe that if the teeth are bleeding during the ritual it means that the girl is not virgin anymore. A week after the ceremony, girl’s teeth will be strengthened using kuku and laka. Kuku is a plant that grows in the forest while Laka is similar with sulfur. Those two materials should be chew so the teeth will be stronger and turn black forever. Until now, people in Bena still keeping and executing this traditional ceremony.

Upacara Kematian:

Among society in kampung Bena, Upacara Kematian also known as Ngeku. For those who are in the lower level of economy, they only need to sacrifice a chicken but for those who are rich enough they should sacrifice a buffalo or a pig. Then the liver is taken to be given to the cadaver together with sprinkle of padi and moke when it is buried. Then people will pray this Doa “For those who leave us, please eat this pig’s liver and blessed your families who you left.” Whatever the ritual, people in kampung Bena never forget their habbit to deliver some offerings for their anchestor spirits named Inebu in order to make the ceremony running well.

Traditional ritual in Reba Bena party:

Word “Reba” or “Uwi” means party. The purpose of this ceremony is to create a good relationship between people and their God as well as their relationship with the anchestor. Once people have a good relationship with their God and anchestor, they will also have a good relationship among them. Reba Bena ceremony is held every year for 3 days and 3 night. This ceremony also held to asked for salvation and harmony.

Some beliefs in sacred symbols at Bena traditional housing:
There is a belief that is believed by Bena’s people when people start making decorations (in a form of engraving) for their traditional house. It is known as Lima Pada. This kind of belief is marked by having some ritual for their anchestor using a piggy which has been holed on its ear. After that ritual finished, the craftman is allowed to take the piggy and start their work to make the engraving.
During the working process, owner of the house especially the woman is not allowed to pomade her hair. They only allowed to wash their hair using water. If they didn’t obey this rule, all people who live in that house are in danger and will be sick. There are several types of engraving to decorate Bena’s traditional house such as horses, chickens Kelantan, buffalo’s horns and earrings.

There also some ornaments both in front of the house or arroung the house in Bena. A hourse engraving is placed behind the door. According to Bena’s society horse is a symbol of power. They believe that horse can beat bad energy that may disturb whoever living in that house. Buffalo’s horns are placed on the right side or the left side of its pillars. These are real buffalo’s horns and they are forbidden to dispose it. Buffalo’s horn representing wealth and prosperity. Buffalo’s horns which are arranged neatly in front of the house means that a big ceremony has been held in that house. This kind of ceremony can be held only by a rich people because it require to use buffalo while on the other side buffalo is one of the most expensive animals among Bena’s society. That is why buffalo’s horn is a symbol of prestige.

Rumah Adat Bena Ritual – Bena’s traditional house ceremony.

This kind of ceremony is held once the construction of the house had finished. After the ceremony being held, then it continue to have a party as an expression of gratitute. Party is start with a ceremony called Kasao. This is a glorious ceremony. They use Tibo (a bamboo shoot) during the ceremony. They also slaughter chickens and pigs in front of the door house. It is dedicated to anchestor spirits to ask them blessed the ceremony so the ceremony will running well. The offerings are placed in Ture Sabarajo and the rest of the offerings are distribute to the entire community. In this ceremony, community also perform a dancing named Tari Ja’i.

Sacred symbols in the form of buildings in Kampung Bena:

1. Ngadhu.

Ngadhu is a place to worship anchestral spirits which is looks like an umbrella. There are some ornamnets on the pillars inside Ngadhu. The main element of the pillars is woods. Ngadhu is a symbol of male anchestor and located in front of Bagha which represent female anchestor. Such kind of placing represent a husband-wife relationship. A husband should be in front of his wife, trying to be responsible and protect his wife. Ngadhu and Bagha in Kampung Bena also become a symbol of existence of an ethnic (So’e). This kind of building is built when ther is a clan that will be formed.

2. Bagha

Bagha is a small house used to worship female anchestor. Bagha is also in front of a building name Sao Sakapu’u. This condition is quite understandable because they adopts matrilinear systems where lineage of the woman hold as a basis of the family. For Kampung Bena society, Bagha is also believed as a symbol of the main anchestor from a So’e which is based on a blood descendant. There is a philosophy of Bhaga, it is about sancity which become the principle in marriage. It is about protecting the sancity of female anchestor.

3. Saka Pu’u

Is a traditional housing in Bena where adopts matrilinear systems. It means that this house is the primary house owned by female offspring. Saka Pu’u is marked by the pressence of miniatur of a house called Aniaye on the top of the roof.

4. Sakalobo

is a traditional house in Bena owned by man who are the descendents of woman from Bena. The characteristic of this building is that it has small statue on the top of the roof named Ata.

5. Sao Kaka

is a supporting building which support the existence of Saka Pu’u and Sakalobo. Sao Kaka is built when the family didn’t have Sua. Whoever live in Sao Kaka are keluarga sampingan from Saka Pu’u and Sakalolo.
What People Believe in the Heritage of Megalithic in Kampung Bena:

Some evidence that can be found from the heritage of anchestors are Menhir and some unique arrangement of stone. Thus megalithic heritages are also including:

1. Ture Sabarajo
Turesa Barajo is an ancestors graveyard who were the founder of kampung bena itself. It is represented in structured stones which were ordered into circle sharp stones and covered with a flat stone on top of it as a place of sacrifice.

2. Peo
As one of the Menhir in Kampung Bena, Peo is a small sharp stone placed in front of Ngadhu and Bagha. According to local society, Peo is described as a son from the meeting of Ngadhu and Bagha and usually the sacrificial animals to be used in sacrificial ceremonies tied at the Peo

3. Ture and Menhir
Ture and Menhir are arrangements of stones looks like the grave and attached with dolmen and menhir. Dolmen is believed as the female stone while menhir is believed as the man stone.

4. Meri
Meri is the stone outside the village and used as a place to put the sweet potato in Reba traditional ceremony.

Source:
Blog Ngurah Jayanti (http://varianwisatabudayasundakecil.blogspot.com/)
Staff peneliti di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali, NTB, NTT.