Di sebelah utara Ambon ada sebuah pulau indah dengan jarak tempuh kurang lebih 5 jam perjalanan. Pulau Seram, begitu mereka menyebutnya. Pulau yang terdapat pantai-pantai indah, taman nasional megah dengan pepohonan yang masih sangat rimbun dan pohon-pohon duren legendaris Maluku.

IMG_0672

Ora beach, Taman Nasional Manusela dan Sawai adalah 3 daerah wisata di utara Maluku. Banyak wisatawan asing yang sudah berkunjung. Sekedar bersantai dan berenang di laut depan penginapan.

IMG_0679

IMG_0720

Sayangnya akses untuk menuju ke pulau Seram lumayan mahal. Selain harus menyeberang dengan feri cepat, kita lanjut menyewa mobil dari Masohi selama 3 jam sekitar 500 ribu sampai dengan 700 ribu rupiah.

Sejenak biaya perjalanan yang cukup besar itu terlupakan saat menikmati durian yang begitu lezat, jatuh langsung dari pohonnya. Setelah kami puas, lanjut berenang di depan penginapan.

IMG_0706

IMG_8408

Ada satu hal yang membuat tim Menuju Timur agak kecewa. Penginapan pak Ali nyaman dan menyenangkan, namun saat mereka mengatur pertunjukan tarian Cakalele, tari yang disuguhkan tidak sesuai dengan ekspektasi kami.

Dengan uang satu juta rupiah, ekspektasi kami adalah pertunjukan tari Cakalele selama 30-45 menit yang menyuguhkan tarian perang gagah serta pemain musik lincah terpadu di dalamnya. Ekspektasi kami pun tampaknya diamini oleh pegawai yang mengatur tarian Cakalele. Ia berkoordinasi dengan kampung sebelah yang akan menyajikan tarian tersebut. Lalu ia pun bilang akan ada sekitar 10 orang yang terlibat di tarian.

Voila! Saat kami pergi menuju desa sebelah lagi-lagi harus mengeluarkan biaya lumayan besar untuk sewa mobil, karena angkutan umum tidak memungkinkan untuk menunggu kita melihat tarian dan lanjut ke Masohi.

Sampai di desa sebelah kita masih harus menunggu cukup lama untuk mereka bersiap-siap. Saat tarian dipertunjukan ekspektasi kami yang sudah terbangun begitu baik hancur berantakan. Tarian Cakalele yang seharusnya dapat dinikmati terasa hambar. Hanya ada 5 orang anak kecil laki-laki yang menari selama 5 menit diiringi tetabuhan dan satu orang pria dewasa tanpa baju adat menyanyi di sebelahnya, pertunjukan ini berlangsung di tengah jalan desa. Setelah tarian usai, tidak ada cerita, tidak ada pula kata-kata yang tersisa dari mereka. Tampak mereka tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan tarian Cakalele ini.

Tidak hanya kami saja yang kecewa. Tiga orang wisatawan asing yang bersama kami untuk patungan melihat tarian tersebut merasa kecewa pula. Kami pulang dari Sawai dengan kesan yang kurang menyenangkan dan juga tidak punya cukup banyak waktu untuk bertandang ke Ora.

Entahlah. Mungkin lain kali kita akan kembali dan bisa melihat tarian Cakalele yang lebih baik dari kemarin.